Menguak Budaya Afternoon Tea di Inggris
Menguak Budaya Afternoon Tea di Inggris

Maniak teh merupakan julukan yang sangat tepat bagi orang-orang Inggris. Saking tergila-gila dengan teh, bahkan orang-orang Inggris memiliki tradisi minum teh di sore hari dan dikenal dengan sebutan afternoon tea.

Ciri khas dari afternoon tea ala orang-orang Inggris ialah dimana teh disajikan dengan camilan-camilan kecil yang disusun di atas nampan berlapis yang sangat tinggi atau biasa disebut three tier.

Tradisi afternoon tea sudah melewati sejarah panjang sejak tahun 1800-an dan populer di kalangan bangsawan Inggris di masa itu. Karena afternoon tea lebih ke urusan gaya hidup, maka segala sesuatunya tampil begitu cantik. Mulai dari peralatan minum teh seperti cangkir hingga taplak meja.

Tradisi ini lebih sebagai ajang bertemu dan bersosialisasi. Selain juga menjadi jeda mengisi perut di antara jam makan siang dan makan malam. Belakangan sudah banyak restoran dan hotel bintang lima di Jakarta yang menawarkan paket afternoon tea.

Menurut Ratna Somantri, seorang ahli teh, afternoon tea lebih berfokus pada sisi lifestyle atau gaya hidup, dibanding tehnya itu sendiri. Sehingga, afternoon tea ibarat fine dining yang serba penuh dengan aturan atau table manner.

“Tradisionalnya, rak susun ada kue-kue mulai dari sandwich, lalu kue-kue manis, dan harus ada scone,” jelas Ratna.

Secara tradisional, scone disajikan dengan jam (selai) dan clotted cream atau krim kental yang menggumpal. Menurut Ratna, kue scone cenderung kering sehingga cocok dimakan dengan krim kental. Selain scone, juga biasa disajikan kue tart buah.

“Saat itu, pastry belum berkembang, belum keren-keren seperti sekarang. Sekarang sudah macam-macam, malah bisa kue Indonesia, tidak masalah,” ungkap Ratna.

Selain itu, lanjut Ratna, orang Inggris pada zaman dulu biasa minumblack tea (teh hitam atau teh merah). Sehingga, selalu disediakan gula dan susu. Saat memasukan gula, untuk tercampur dengan teh, jangan diaduk secara berputar.

“Aduknya tidak diputar, bisa terciprat. Kalau untuk etika, aduknya back and forward (arah depan belakang),” tutur Ratna.

Etika lainnya adalah sikap duduk yaitu duduk harus tegak. Lalu soal cangkir dan tatakannya (saucer). Tatakan cangkir harus tetap di meja, saat cangkir diangkat. Sendok pengaduk diletakkan di sisi belakang tatakan.

“Tatakan jangan diangkat sama cangkirnya. Tapi kalau kita standing party, bawa saucer-nya. Jadi cup (cangkir) dan saucer (tatakan) tidak boleh berjauhannya,” jelas Ratna.

Sedangkan kantong teh yang sudah terseduh, diletakkan di tempat yang sudah tersedia. Kalau tidak ada, letakkan di tatakan cangkir. Hal ini agar taplak yang biasanya dipakai taplak cantik tidak menjadi kotor.

Budaya minum teh di Inggris sangat lekat dalam kehidupan sehari-hari, bahkan tidak hanya di kalangan bangsawan saja. Kalangan bangsawan Inggris memiliki tradisi dimana ada jeda waktu antara makan siang menuju makan malam selama 8 jam. Nah, jeda waktu tersebut dimanfaatkan untuk menyesap secangkir teh untuk menetralkan rasa lapar lengkap dengan hidangan kecil seperti scone.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here